Langsung ke konten utama

Des(end)ber

Desember. Hai.
Apa kabar? Aku tak benar benar merindukanmu. Sungguh. Niatku hanya menyapa. Itu saja tak lebih.
Semoga kau selalu tetap bahagia, ya. Jangan luka, cukup aku saja.


Seperti dulu, sebelum, saat dan setelah (tidak lagi) bersamaku.
Entah mengapa rasa benci ku tak pernah  bisa sebesar rasa ingin memilikimu.
Apa ini yang dinamakan pembodohan diri yang di atas namakan rasa 'menyayangi ? Menyakitkan rupanya. Hah. Tapi sudahlah,lupakan.
Kini kita telah menemukan bahagia sesungguhnya (sesuai dengan keinginan; itu bagimu tidak bagiku) .


Yang ku sesali dari ini sebelum kau pergi, aku tak mengucapkan kalimat 'selamat tinggal ' dengan sungguh sungguh.
Karena itulah, sampai saat ini,masih ada rasa yang menganjal tertinggal di bagian dimana saat menatapmu otomatis  ada yang berdetak.
Oh kau tidak perduli ya?
Ah aku juga tidak minta kau perdulikan,sebenarnya.


Walaupun begitu, percayalah. Dari detik kau datang ,pergi hingga hari ini, kau masih yang terpilih.
Aku tau kau tidak  akan perduli untuk ini. Maka dari itu, aku tak pernah mengatakan kepadamu dari saat hingga detik ini.
Rasanya lidahku kelu saat orang lain berbicara mengenai dirimu yang telah memiliki kekasih baru dan dengan begitu mudah melupakan aku.


Desember. Hai.
Aku hanya sekedar menyapa saja, lagi.
Untuk yang terakhir kali.
Niatku hanya memastikan saja,bahwa kau tidak benar benar tuli.


Untuk mu,si pemberi bahagia sekaligus luka. Desember ku  yang bahagia nyata jadi luka. Semoga kita dapat kesempatan berjumpa, meski tidak saling menatap bahkan bertegur sapa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESEMBER, AKU,LUKA DAN DIA.

Desember. Hai.
Bagaimana kabarmu? Ah pasti kau baik baik saja. Setelah melepas aku, kau terlihat nyata begitu bahagia. Ah aku jadi merasa seperti beban bagimu. Beban kebahagiaanmu. Maafkan aku.

Tapi, se-membebani itu kah aku di dalam hidupmu? Hingga rasa tega itu tak ada kasihnya sama sekali. Ah lagi pula aku tak butuh kasihmu.
Harus sekali menyakiti aku supaya aku melangkah pergi? Iya? Begitu?

Jika begitu, kenapa awalnya mengajak berlari? Kau tau aku kan, aku ini lemah. Kau pasti tau itu. Seharusnya setelah kau tau aku lemah dalam berlari, kau berhenti dan menungguku, bukanya malah berlari meninggalkanku,menyusul yang dapat berlari kencang denganmu. Seharusnya kau tidak seperti itu.

Desember. Hai.
Setelah kau berlari kencang dan menemukan yang yang kuat diajak berlari. Apakah menyenangkan? Ah aku rasa iya. Kau terlihat begitu bahagia ya. Ah aku jadi bahagia melihatnya, walau sisi lain diriku secara nyata terluka. Tapi demi dirimu bahagia, aku rela. Hanya luka saja. Hanya.

Aku mungkin…

Kita seharusnya tak pernah ada.

Sejak hari dimana kau memutuskan pergi,tidur malam bagiku adalah mimpi buruk yang panjang.Aku tak ingin memejamkan mata.
Aku tak ingin hal yang sama terjadi lagi,semua hilang saat aku membuka mata.

Masih terekam baik di ingatan,bagaimana seseorang yang kusebut sebagai alasan bahagia,kamu, pergi. Di malam itu,dengan langkah yang sama seperti saat  melangkah ke arahku,kamu gunakan langkah serupa untuk meninggalkanku.

Kalau saat itu kita tetap menjadi orang asing,mungkin hubungan kita tidak akan serumit ini. Semua tidak akan sesakit ini. Tidak ada yang perlu merasa kehilangan karena ditinggalkan. Kita masih bisa dekat. Walau hanya berstatus sahabat.

Kini,aku menyadari satu hal,meski dengan sangat terlambat. Memilikimu hanya akan membuat diriku menjadi orang pertama yang paling berpotensi kehilanganmu.

Aku terlalu di butakan dengan rasa yang ku miliki,hingga bertindak  gegabah  dengan membalas perasaannya begitu mudah. Tanpa berfikir apakah nantinya semua ini tidak akan berubah.

Atas nama…